Hati-hati: DEPRESI Memperburuk Sakit JANTUNG!

Sudah lama masalah kejiwaan diduga ada hubungan dengan sakit jantung. ‘Kenapa bisa sakit jantung Dok? Gara-gara stres ya Dok?’ Pertanyaan macam begini hampir tiap hari saya dengar ketika saya ‘memvonis’ seseorang menderita sakit jantung.

Salah satu masalah kejiwaan terbanyak adalah DEPRESI. Laporan studi Global Burden of Disease (GBD) tahun 2010 menyebutkan bahwa Kelainan Depresi Mayor (MDD = Major Depressive Disorder) merupakan penyebab kecacatan kedua terbanyak di dunia. Angka ini terus meningkat setelah sebelumnya pada GBD 1990 menempati urutan keempat dan GBD 2000 urutan ketiga. (Rupanya, banyak sekali orang yang depresi di muka bumi ini ya ). Laporan GBD 2010 juga menyebutkan bahwa depresi memiliki andil terbesar terhadap angka kejadian bunuh diri dan penyakit jantung koroner.*

Kecurigaan adanya hubungan antara depresi dengan penyakit jantung koroner juga nampak dari tingginya persentase penderita depresi di antara pasien jantung. Di Amerika, sekitar 20% pasien yang mengalami serangan jantung juga menderita depresi. Bandingkan dengan persentase penderita depresi yang hanya 4% pada populasi umum.

DEPRESI Memperburuk Sakit JANTUNGOleh karena itu beberapa ahli berpikir bahwa depresi memiliki hubungan kausatif (merupakan salah satu penyebab) penyakit jantung, atau setidaknya, adanya depresi memperburuk kondisi sakit jantung. Banyak ahli yang juga mulai mempertanyakan apakah sudah waktunya untuk menempatkan depresi ‘sejajar’ dengan faktor-faktor resiko jantung lainnya seperti hipertensi, diabetes, kolesterol, merokok, dan obesitas.

Berdasarkan pertimbangan-pertimbangan di atas, Asosiasi Jantung Amerika (AHA = American Heart Association) menetapkan panel ahli yang terdiri dari 12 orang untuk meneliti hal ini. Mereka mencari semua penelitian yang berhubungan dengan depresi dan penyakit jantung koroner. Didapatkan 53 studi yang seusai dengan topik ini. Dari 53 studi ini, 32 studi menunjukkan adanya hubungan antara depresi dengan peningkatan angka kematian pada pasien-pasien yang mengalami serangan jantung. 12 studi lainnya secara lebih spesifik menunjukkan adanya hubungan antara depresi dengan peningkatan angka kematian kardiovaskular pada pasien-pasien yang mengalami serangan jantung.

Berdasarkan temuan ini panel ahli ini merekomendasikan kepada AHA untuk ‘meningkatkan status’ depresi menjadi faktor resiko ‘resmi’ terhadap terjadinya kematian pada pasien yang mengalami serangan jantung. Ini berarti, setiap pasien yang mengalami serangan jantung harus diperiksa ada tidaknya depresi, sama seperti keharusan untuk memeriksa ada tidaknya faktor-faktor resiko lainnya (hipertensi, diabetes, kolesterol, merokok, dan obesitas).**

Sayangnya temuan ini belum dapat disertai dengan rekomendasi untuk pemberian obat-obatan anti depresi. Dari sekian banyak studi di atas, tidak cukup banyak penelitian yang meneliti efek pengobatan depresi terhadap perjalanan penyakit pasien yang mengalami serangan jantung. Hanya didapatkan 1 studi yang meneliti hal tersebut, dan penelitian ini tidak menunjukkan bukti bahwa obat-obat anti depresi yang diberikan dapat memperbaiki perjalanan penyakit penderita penyakit jantung. Hal ini jelas berbeda dengan faktor-faktor resiko yang lain seperti hipertensi, diabetes, kolesterol, merokok, dan obesitas. Kondisi-kondisi tersebut di atas, bila ditangani atau diobati dengan baik, selalu memperbaiki perjalanan penyakit penderita sakit jantung.

Jadi, apa kesimpulan yang dapat kita tarik? Yang pertama, jelas bahwa adanya depresi memperburuk sakit jantung, yaitu meningkatkan angka kematian pada penderita yang telah mengalami serangan jantung. Kesimpulan kedua, (sayangnya) pengobatan dengan obat anti depresi sampai saat ini belum terbukti bisa memperbaiki perjalanan penyakit pasien jantung. Jadi, bagaimana jalan keluarnya? Ya, sementara ini (sampai ada penelitian lebih lanjut) kalau bisa jangan depresi. Seperti kata teman saya,’Enjoy aja. Don’t worry, be happy!’

Leave A Comment...

*